Proses Pembelajaran Zaman Kekinian

REFLEKSI

sumber ilustrasi : https://www.google.com/search?q=pembelajaran+digit
Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”, begitulah pesan dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Sebuah catatan penting diawal tahun baru khusus bagi guru yang akan memulai proses pembelajaran disekolah. Catatan ini ingin merekayasa bahwa proses pembelajaran (selanjutnya disingkat PP) disekolah tidak boleh menoton. PP yang dipakai tidak boleh ‘itu-itu saja’, guru harus berinisiatif melakukan perubahan-perubahan kekinian.
Dahulu, sekolah merupakan ruangan dimana guru dan siswa bertatap muka untuk mentransfer ilmunya. Guru harus bertemu secara langsung untuk bisa mengajarkan berbagai pengetahun. Itu dulu, itu zaman bengen, itu zaman baholak.
Kehidupan dan penghidupan mengalami perubahan dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Para guru tidak cukup dilengkapi hanya dengan kemampuan-kemampuan mengenai teori belajar-mengajar saja, tetapi memerlukan juga berbagai pengetahuan dan keterampilan kekinian yaitu berupa pembelajaran yang berbasis ICT (Information Communication Technology). Pembelajaran berbasis ICT sendiri adalah pembelajaran yang berasaskan konsep pembelajaran komputer dan multimedia.
Oleh sebab itu, tugas guru dizaman kekinian adalah merancang PP yang benar-benar cocok dengan kebiasaan, hobbi, kebutuhan, kesukaan siswa zaman now. Guru harus pandai mencari dan menciptakan kondisi belajar yang memudahkan siswa dalam memahami, memaknai, dan menghubungkan materi pelajaran yang sesuai dengan dunia siswa.
Sekarang ini informasi dengan cepat kita peroleh dari berbagai sumber dari internet. Dengan internet, semua informasi dengan mudah diakses via mesin pencari (google, yahoo, dll). Dengan kecanggihan teknologi informasi ini, sudah sepatutnya guru menguasai dan memanfaatkan kecanggihan ini untuk menghadirkan sesuatu yang kekinian dalam PP. Siswa di era digital ini adalah anak-anak penikmat dunia gadget. Siswa cenderung menghabiskan waktunya untuk bermain dengan permainan yang modern, seperti smartphone, android, tablet dan lain-lain.
Guru ‘wajib’ sadar betapa pentingnya menguasai teknologi di zaman sekarang ini. Guru harus berusaha mengejar ketertinggalan, guru harus mau belajar. Guru yang cerdas teknologi mampu memaksimalkan teknologi informasi khususnya internet untuk menunjang PP. Memang sudah ada guru sudah memanfaatkan berbagai media di internet untuk PP seperti blog, facebook, bahkan youtube. Tapi, diakui, masih banyak guru yang masih ber-status quo, dan masih yakin dengan model pembelajaran zaman ‘bengen’.
Pada akhirnya, era digital menyadarkan guru bahwa ICT bukan sekedar kecanggihan teknologi tapi sesuatu yang ‘dibawa’ kedalam kelas sebagai sarana atau media. Guru tak perlu anti terhadap siswa yang senang dengan media sosial. Di titik inilah, sebagian guru sebagai ‘penduduk pendatang’ (digital imigran) yang keberadaannya sangat penting bagi siswa, yaitu memfasilitasi siswa untuk belajar memanfaatkan keuntungan internet ke arah yang lebih pedagogis untuk membuat ‘nyaman’ pembelajaran. Kaum digital imigran, tugasnya membelajarkan para digital native, melenjitkan kompetensi kualitas belajar siswa.
PP mengaplikasikan TIK yang berbasis internet dengan bahan ajar digital menyebabkan terjadinya pergeseran PP dari yang biasa dilakukan guru. Rosenberg menyebutkan lima pergeseran tersebut, yakni: pergeseran dari pelatihan ke penampilan, pergeseran dari ruang kelas ke dimana dan kapan saja PMB dapat dilaksanakan, pergeseran dari kertas ke digital dan online sehingga paperless atau tanpa kertas, pergeseran dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja atau populer dengan sebutan network, dan dari waktu siklus ke waktu nyata.   
Oleh karena itu, Jennifer Nichols menyarankan empat prinsip pokok pembelajaran abad kekinian: 1) pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya; 2) pembelajaran itu bekerja sama (kolaboratif)Siswa harus dibelajarkan untuk bisa bekerja sama dengan orang lain yang berbeda dan belajar bagaimana menghargai kekuatan dan talenta orang lain dan menyesuaikan diri secara tepat kondisi itu; 3) pembelajaran harus punya konteks, materi pelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan nyata sehari-hari siswa (real world); 4). Sekolah harus terintegrasi dengan masyarakat dan memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Untuk mewujudkan prinsip dan keterampilan tersebut, Kemendikbud dan Kemenag mengarusutamakan model pembelajaran abad 21, yang dirumuskan dalam 4C yakni: 1) communication: Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui komunikasi dan pengalaman yang dia alami; 2) collaboration: pada proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan sistuasi dimana siswa dapat belajar bersama-sama/berkelompok (team work), belajar menghargai perbedaan pendapat, menyadari kesalahan yang ia buat, serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tanggung jawab yang diberikan;
Kemudian, 3) Critical Thinking and Problem Solving: proses pembelajaran hendaknya membuat siswa dapat berpikir kritis dengan menghubungkan pembelajaran dengan masalah-masalah konstektual yang ada dalam kehidupan sehari-hari; 4) creativity and Innovation, pembelajaran harus menciptakan kondisi dimana siswa dapat berkreasi dan berinovasi. Guru hendaknya menjadi fasilitator dalam menampung hasil kreativitas dan inovasi yang dikembangkan oleh siswa.
Jadi, teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, variatif, menghibur, dan mudah dapat menyuguhkan ilmu pengetahuan yang ada dalam satu genggaman, gadget (gawai) hanya dengan satu klik. Bisa jadi siswa sudah terlebih dulu mengakses informasi itu di luar kelas. Disini peran guru, menyebarkan  silabus yang ditetapkan oleh pemerintah kepada siswa untuk dipelajari diluar sekolah. Bagi guru, bisa jadi siswa sudah lebih dulu tahu apa yang disampaikan oleh guru, tetapi jika disajikan dengan menarik, kreatif, inovatif maka siswa akan lebih tertantang untuk belajar.
Betul kata pakar pendidikan: “The issue is not our student. The issue is we (teachers) ready for the changes?

sumber: guruberbagi.kemdikbud.go.id
Terima kasih atas masukannya. Anda sangat membantu kami meningkatkan Guru.My.ID.

Bagikan Artikel ini

Artikel Lain

0 Comments

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel